Rabu, 13 Juni 2012

ALAT TANGKAP BAGAN


I.  PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan luas wilayah perairan mencapai 2/3 dari seluruh luas wilayah Indonesia. Luas perairan yang mencapai 5,8 juta km2 yang terbagi atas perairan teritorial 0,3 juta km2, perairan nusantara 2,8 juta km2 dan zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,7 juta km2. Dari data yang diperoleh, pemanfaatan potensi sumber daya perikanan di wilyah Indonesia baru mencapai setengah dari potensi lestari yang dimiliki. Berdasarkan hasil evaluasi, potensi lestari sumber daya perikanan mencapai kurang lebih 4,5 juta ton/tahun dan potensi ZEE sebesar 2,1 juta ton/tahun (Dahuri, 2000).
Walaupun dengan wilayah perairan yang luas potensi dan sumber daya hayati yang terkandung didalamnya masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sumber daya hayati (ikan) merupakan bagian dari sumber daya alam yang memberikan andil sebagai penghasil devisa negara. Mengingat perikanan Indonesia terdiri dari beberapa jenis dan beragam (multi-species), maka pengembangan yang mengacu pada peningkatan produksi (perikanan tangkap) mempunyai peluang yang sangat besar untuk dikembangkan.
Sebagian besar masyarakat pesisir, menjadikan perikanan sebagai tulang punggung (back tone) dari pertumbuhan ekonomi di wilayah pesisir dan sumber penghasilan masyarakat serta sebagai asset bangsa yang penting. Oleh karena itu, ketersediaan dan keseimbangan (sustainability) dari sumberdaya alam ini menjadi sangat krusial bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan akan sangat targantung dari pengelolaan yang baik setiap stakeholder yakni masyarakat dan pemerintah.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan nelayan antara lain dengan meningkatkan produksi hasil tangkapannya. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi tersebut adalah dengan mengusahakan unit penangkapan yang produktif, yakni yang tinggi dalam jumlah dan nilai hasil tangkapannya. Selain itu, unit penangkapan tersebut haruslah bersifat ekonomis, efisien dan menggunakan teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat serta tidak merusak kelestarian sumberdaya perikanan.
Berhasil tidaknya suatu alat tangkap dalam operasi penangkapan sangatlah bergantung pada bagaimana mendapatkan daerah penangkapan yang baik, potensi perikanan yang ada dan bagaiman operasi penangkapan dilakukan. Beberapa cara dilakukan dalam upaya penangkapan diantaranya dengan menggunakan alat bantu penangkapan. Macam-macam alat bantu penangkapan yang umum digunakan dalam operasi penangkapan ikan di Indonesia diantaranya dengan menggunakan rumpon dan cahaya lampu.    
Salah satu bentuk teknologi penangkapan ikan yang dianggap sukses dan berkembang dengan pesat pada industri penangkapan ikan sampai saat ini adalah penggunaan alat bantu cahaya untuk menarik perhatian ikan dalam proses penangkapan (Nikonorov, 1975; Arimoto, 1999; Baskoro, 2001; Baskoro dan Suherman, 2007).
Bagan merupakan salah satu alat tangkap yang menggunakan alat bantu cahaya. Menurut Brandt (1984), bagan diklasifikasikan kedalam lift net atau jaring angkat yang dalam pengoperasiannya menggunakan aktraktor cahaya lampu sehingga ikan yang menjadi tujuan penangkapannya adalah ikan yang berfototaksis positif.

1.2.  Perumusan masalah
Alat tangkap bagan merupakan salah satu jenis alat tangkap yang cukup banyak digunakan di Indonesia. Banyaknya penggunaan alat tangkap bagan tidak lepas dari perkembangan wilayah, kemudahan teknologi, tingkat investasi yang rendah, dan metode penangkapan yang bersifat one day fishing. Selain hal-hal teknis tersebut, tingginya penggunaan bagan juga disebabkan tingkat efektivitas unit penangkapan bagan untuk menangkap ikan-ikan pelagis.
Dari sekian banyak keunggulan penggunaan unit penangkapan bagan baik dari sisi teknologi maupun metode pengoperasian tidak serta merta memberikan perubahan yang signifikan terhadap peningkatan hasil tangkapan terlebih terhadap peningkatan pendapatan serta perekonomian nelayan. Untuk itu maka diperlukan suatu kajian terhadap cara pengoperasian serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah hasil tangkapan pada alat tangkap bagan tancap.

1.3.  Tujuan
Mengetahui cara pengoperasian serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah hasil tangkapan pada alat tangkap bagan tancap.

1.4.  Manfaat
Melalui makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan kegiatan penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bagan tancap, khususnya yang menyangkut efektivitas penangkapan. Selain itu, makalah ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perikanan bagan tancap baik secara teknis maupun ekonomi.
 
II.  PEMBAHASAN

2.1.  Alat Tangkap Bagan
Bagan adalah salah satu jenis alat tangkap yang digunakan nelayan di tanah air untuk menangkap ikan pelagis kecil, pertama kali diperkenalkan oleh nsingkat alat tangkap tersebut telah dikenal di seluruh Indonesia. Bagan dalam perkembangannya telah banyak mengalami perubahan baik bentuk maupun ukuran yang dimodofikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan daerah penangkapannya. Berdasarkan cara pengoperasiannya bagan dikelompokkan dalam jaring angkat (lift net), namun karena menggunakan cahaya lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing (Subani dan Barus, 1972; Baskoro dan Suherman, 2007).
  Menurut Baskoro dan Suherman (2007), bagan dapat diklasifisikan menjadi dua, yaitu bagan tancap dan bagan apung. Bagan tancap merupakan bagan yang dipasang dengan jalan menancapkan rangka badan kedalam perairan sehingga posisi bagan tancap hanya dapat sekali ditanam dan tidak dapat dipindah-pindah selama musim penangkapan. Operasi penangkapan bagan tancap dilakukan pada malam hari. Sebagian besar menggunakan cahaya yang berasal dari petromaks, walaupun ada juga yang menggunakan lampu listirk.
Gambar 1.  Contoh bangunan bagan tancap

2.2.  Cara Pengoperasian Bagan Tancap
Pengoperasian bagan dimulai dengan menurunkan atau menenggelamkan waring ke dalam perairan hingga kedalaman tertentu. Selanjutnya lampu petromaks dinyalakan untuk memikat perhatian ikan agar berkumpul di sekitar bagan. Apabila kelompok ikan telah terkumpul di pusat cahaya, sebagian lampu diangkat atau dimatikan agar kelompok ikan yang terkumpul tidak menyebar kembali. Setelah kelompok ikan terkumpul secara sempurna maka waring diangkat secara perlahan-lahan. Pada saat waring mendekati permukaan, kecepatan penangkapan lebih ditingkatkan lagi, selanjutnya ikan ditangkap dengan menggunakan serok (Subani dan Barus, 1972; Baskoro dan Suherman, 2007).
 
Keterangan :
a. Bagan siap operasi;
b. Setting waring;
 c. Penurunan petromaks;
d. Pengangkatan petromaks;
 e. Hauling; dan
 f. Pengambilan hasil tangkapan.
Gambar 2. Proses pengoperasian bagan tancap di Kabupaten Serang.
Proses penangkapan dengan bagan meliputi beberapa tahap, mulai dari munculnya gerombolan ikan di daerah penangkapan, rangsangan cahaya oleh lampu, reaksi ikan saat jaring terangkat sampai dengan tertangkapanya ikan (Baskoro, 1999).
Menurut penelitian Lee (2010), Pengoperasian unit penangkapan bagan dimulai dengan persiapan pada pukul 16.00 WIB. Persiapan yang dilakukan meliputi menyiapkan bahan bakar minyak (solar dan besin) kurang lebih 6 liter, membersihkan kaca, tudung dan kaos petromaks, serta persiapan keperluan perbekalan nelayan terutama konsumsi.
Setelah persiapan perlengkapan selesai kemudian sekitar pukul 17.00 WIB nelayan menuju kapal yang berlabuh di Pelabuhan Perikanan Pantai Karangantu. Setiap kapal bagan umumnya digunakan oleh satu kelompok yang berjumlah 9 hingga 11 orang nelayan. Kapal berangkat dari fishing base di PPP Karangantu menuju fishing ground, dengan waktu perjalanan 30 hingga 45 menit (Lee, 2010).
Bagan mulai dioperasikan mulai pukul 18.00 WIB. Pengoperasian bagan dimulai dengan menurunkan waring secara perlahan-lahan hingga kedalaman maksimum, biasanya 12-15 meter. Setelah waring selesai diturunkan nelayan mempersiapkan petromaks untuk dinyalakan (Lee, 2010).
Kegiatan selanjutnya adalah menurunkan petromaks satu persatu dan menggantungnya tepat di bawah bangunan bagan (Gambar 2 Bagian c). Penggantungan dilakukan sedemikian rupa sehingga petromaks berada kurang lebih 50 cm hingga 100 cm di atas permukaan air. Setelah semua terpasang pada posisinya nelayan kemudian menunggu dan memperhatikan kondisi lingkungan (cahaya petromaks, arus, angin dan kedatangan ikan). Setelah 1 (satu) jam biasanya tekanan petromaks ditambah dengan memompanya sehingga cahayanya stabil dan tidak redup (Lee, 2010).
Proses hauling rata-rata dilakukan setelah 2-3 jam setelah setting, namun patokan waktu ini tidak selalu sama tergantung kondisi ikan, bila sebelum 2 jam ikan telah datang nelayan akan mengangkat jaring, begitu juga sebaliknya. Proses hauling dimulai dengan mengurangi jumlah petromaks dari 4 unit menjadi 2 unit. Hal ini dilakukan untuk mengonsentrasikan ikan disekitar cahaya (petromaks). Setelah itu, lampu yang tersisa diangkat menjauhi permukaan air dengan cara menarik tali penggantung petromaks, sedemikian rupa sehingga petromaks tepat ada di bawah bangunan bagan dengan jarak sekitar 100 cm. Proses selanjutnya adalah penarikan waring, proses ini dimulai dengan memutar roller secara perlahan-lahan, hal ini dilakukan agar ikan tidak terkejut dan meloloskan diri dari waring. Putaran roller semakin dipercepat pada saat waring mendekati permukaan air, hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah ikan yang lolos karena ikan mengetahui ada benda asing yang bergerak mendekatinya. Roller terus diputar hingga bingkai waring menyentuh lantai/rangka bagan bagian atas (Lee, 2010).  
Proses terakhir dari pengoperasian bagan adalah memindahkan hasil tangkapan yang berada di waring ke keranjang (gendut) dengan menggunakan serok. Setelah itu, ikan yang tertangkap dikelompokkan berdasarkan jenisnya masing-masing. Proses pengoperasian bagan diulangi hingga 4-5 kali setting setiap malamnya (Lee, 2010).

2.3.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Tangkapan Bagan Tancap
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan bagan tancap selain faktor lingkungan antara lain:
1. Intensitas cahaya
Menurut Ayodhyoa (1981), menyebutkan bahwa peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
a.    Peristiwa langsung, yaitu ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul. Hal ini berhubungan langsung dengan peristiwa fototaksis.
b.    Peristiwa tidak langgsung, yaitu karena ada cahaya maka plankton, ikan-ikan kecil dan lain-lain sebagainya berkumpul, lalu ikan yang dimaksud datang berkumpul dengan tujuan mencari makan (feeding). Beberapa jenis ikan yang termasuk dalam kategori ini seperti ikan tengiri, selar dan lain-lain.
Hasil penelitian terhadap ikan hias karang jenis kepe-kepe menunjukan pola pergerakan pigmen ikan belum berpengaruh secara penuh terhadap iluminasi intensitas cahaya yang rendah. Namun pada intensitas cahaya yang tinggi baru terlihat adanya adaptasi pigmen ikan. Kemungkinan penerapan hasil penelitian ini untuk menarik jenis ikan dilapangan adalah pada intensitas sekitar 350 lux, sedangkan untuk mengkonsentrasikan ikan ini pada alat tangkap lift net perlu digunakan cahaya dengan intensitas rendah sekitar 38 lux (Baskoro dan Suherman, 2007).
Hal ini sesuai dengan penelitian dari made (2006), yang menyatakan bahwa ikan mempunyai kesenangan terhadap intensitas cahaya tertentu, atau intensitas cahaya optimum dan berbeda-beda setiap jenis ikan, sehingga penambahan intensitas cahaya melebihi optimum justru menurunkan hasil tangkapan.
2. warna lampu
Penelitian mengenai pengaruh warna cahaya terhadap hasil tangkapan cumi-cumi pada perikanan bagan tancap di perairan Suradadi Kabupaten Tegal menunjukan bahwa cahaya putih memberikan pengaruh terhadap hasil tangkapan cumi-cumi, di mana cahaya putih memberikan hasil tangkapan terbaik dibandingkan dengan penggunaan warna biru dan merah. Cahaya merah dengan daya tembus yang rendah tampaknya kurang efektif digunakan sebagai pengumpul cumi-cumi dalam satu area yang luas, sedangkan cahaya biru dengan tingkat penetrasi yang tinggi justru mampu merangsang hadirnya predator ke arah sumberr cahaya yang akan menyebabkan cumi-cumi yang telah terkumpul di bawah lampu akan menyelamatkan diri dan menghilang di daerah gelap (Baskoro dan Suherman, 2007).
Namun dari hasil penelitian Hamzah dan Sumadhiharga (1993), menyatakan bahwa setiap jenis cumi-cumi mempunyai respons yang berbeda-beda terhadap sinar warna lampu yang digunakan. Contohnya Loligo edulis maupun Loligo singhalensis mempunyai respons yang berbeda-beda terhadap warna sinar lampu yang digunakan. Loligo edulis bahkan tidak mempunyai respons yang berbeda nyata terhadap hasil tangkapan. Namun bila dilihat dari perbandingan jumlah dan berat total hasil tangkapan yang dirinci menurut warna sinar lampu, ternyata hasil tangkapan Loligo edulis dengan menggunakan sinar kuning cenderung lebih menguntungkan. Sementara hasil tangkapan Loligo singhalensis dengan menggunakan sinar merah adalah efektif dan kemudian disusul oleh hasil tangkapan warna hijau dan kuning.
3. Posisi dan jenis lampu
Penelitian tentang penggunaan jenis lampu terhadap efektifitas cahaya dalam penangkapan dilakukan untuk mendapatkan gambaran jenis lampu yang baik untuk digunakan. Salah satu penelitian yang telah dilakukan adalah penggunaan lampu petromaks dan lampu neon (bawah air) terhadap hasil tangkapan ikan kembung (Rastrelliger sp), misalnya dengan alat tangkap mini purse seine di pulau Mandangin, Sampan  Madura menunjukan perbedaan sumber pencahayaan antara petromaks dan neon memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil tangkapan ikan kembung, di mana hasil tangkapan terbaik diperoleh dengan menggunakan lampu neon (Baskoro dan Suherman, 2007).
Menurut Picasouw (2005), dibandingkan dengan penangkapan ikan menggunakan lampu-lampu lain selain petromaks seperti yang ditempatkan langsung kedalam air, lampu petromaks memiliki beberapa kelemahan (kekurangan) antara lain :
a.    Memiliki intensitas yang sangat terbatas,sebab sinarnya terpencar kemana-mana dan yang memancar ke bawah tidak mempunyai titik fokus yang baik dengan kata lain memiliki radius lingkaran yang besar;
b.    Sebagian cahayanya terpantul ke udara;
c.    Membutuhkab waktu yang cukup lama bila lampuunya mati atau padam;
d.   Lampu petromaks yang diletakkan di atas permukaan air tidak efektif cahayanya bila air bergelombang dan dapat menakutkan ikan yang berada di sekitarnya; dan
e.    Hanya dapat digunakan bila air tenang dan cuaca cerah.
Penelitian selanjutnya tentang uji coba pengoperasian bagan apung dengan bouke ami di perairan teluk Pelabuhanratu Sukabumi, Jawa Barat dengan menggunakan lampu bawah air (under water lamp) yang dikombinasikan dengan 3 buah lampu petromaks menunjukan bahwa ikan lebih cepat muncul dengan menggunakan pencahayaan ini (Baskoro dan Suherman, 2007).

2.4. Hasil Tangkapan
Menurut penelitian Lee (2010), hasil tangkapan bagan sampel (6 unit) selama satu bulan terdiri dari 34 jenis ikan, dengan bobot total hasil tangkapan mencapai 4.139 kg, sehingga rata-rata hasil tangkapan per unit bagan per bulan adalah 690 kg. Hasil tangkapan bagan dibedakan berdasarkan jenisnya, yaitu jenis ikan pelagis dan demersal.
Teri (Stolephorus spp) adalah spesies yang paling banyak tertangkap selama penelitian. Teri yang tertangkap rata-rata memiliki panjang dan berat total kurang lebih 6,6 cm dan 6,4 gram. Total tangkapan teri (Stolephorus sp) selama satu bulan pada enam unit bagan adalah 2.546 kg, atau rata-rata per unit bagan sekitar 424 kg/bagan/bulan. Selain teri, ikan tembang (Sardinella fimbriata) juga mendominasi selama penelitian, dimana rata-rata tangkapannya mencapai 775 kg atau 129 kg/bagan/bulan. Tembang yang tertangkap rata-rata memiliki panjang total dan bobot sekitar 9,9 cm dan 11,9 gram. Hasil tangkapan ketiga yang memiliki dominasi tinggi lainnya adalah ikan pepetek. Pepetek (Leiognathus sp) yang tertangkap selama satu bulan oleh enam unit bagan adalah 356 kg atau 59 kg per unit per bulan, ukuran pepetek yang tertangkap rata-rata memiliki panjang total mencapai 7,8 cm dan berat tubuh rata-rata mencapai 11,3 gram (Lee, 2010).
Menurut Lee (2010), tangkapan bagan terendah selama penelitian adalah ikan sebelah (Pseuttodes erumai), ikan ini hanya tertangkap satu ekor selama uji coba. Minimnya jumlah ikan sebelah (Pseuttodes erumai) yang tertangkap oleh bagan disebabkan jenis ikan ini adalah jenis ikan demersal yang hidup di dasar perairan dan hanya sewaktu-waktu melakukan ruaya diurnal (naik/turun ke permukaan perairan). Selain itu, adanya ikan demersal yang tertangkap juga disebabkan oleh adanya sikap feeding habit ikan-ikan demersal yang tertarik oleh kumpulan ikan disekitar bagan.
Tabel 1. Data hasil tangkapan bagan sampel selama satu bulan
No
Spesies
Rata-rata
Berat Total (gram)
Rata-rata/ bagan / bulan (gram)
Panjang (cm)
Berat (gram)
1
Teri (Stolephorus spp)
6,6
6,4
2.545.810
424.301,6
2
Tembang (Sardinella fimbriata)
9,9
11,9
774.928
129.154,6
3
Pepetek (Leiognathus sp)
7,8
11,3
355.980
59.330,0
4
Kembung (Rastrelliger spp)
10,7
15,8
113.935
18.989,2
5
Cumi (Loligo sp)
14,5
26,4
83.418
13.903,0
6
Japuh (Dussumeria acuta)
9,5
12,0
76.248
12.708,1
7
Golok-Golok (Chirosentrus dorab)
26,8
85,3
62.507
10.417,8
8
Selar (Selaroides sp)
20,2
25,7
41.358
6.892,9
9
Talang-talang (Chorinemus tala)
17,9
103,9
20.423
3.403,8
10
Selanget (Dorosoma chacunda)
9,3
31,7
18.100
3.016,7
11
Kedukang/ manyung (Arius thalassinus)
18,9
218,5
7.650
1.275,0
12
Belanak (Mugil spp)
12,1
47,3
6.345
1.057,5
13
Serinding (Apogon spp)
7,6
8,0
6.280
1.046,7
14
Tigawaja (Jonius dussunieri)
16,2
73,0
6.040
1.006,7





Panjang (cm)
Berat (gram)
15
Sotong (Sepia spp)
25,5
216,7
5.735
955,8
16
Gulamah (Argyrosomus amoyensis)
13,5
74,7
4.290
715,0
17
Bawal hitam (Fermio niger)
4,7
166,7
1.850
308,3
18
Belida (Notopterus chitata)
24,3
96,0
1.560
260,0
19
Kurisi (Nemipterus nemathoporus)
9,9
20,4
1.440
240,0
20
Rajungan (Portunus pelagicus)
11,4
83,0
1.270
211,7
21
Kerapu (Cephalopholis sp)
12,4
65,0
1.050
175,0
22
Semadar / baronang (Siganus theraps)
10,4
21,5
995
165,8
23
Sembilang (Plotosus canius)
8,0
13,1
475
79,2
24
Tenggiri (Scomberomorus commersoni)
11,0
30,6
407
67,8
25
Layur (Trichiurus savala)
15,5
26,0
295
49,2
26
Bawal Putih (Pampus argentus)
9,5
70,0
210
35,0
27
Julung-julung (Hemirhapus far)
8,9
30,0
200
33,3
28
Udang windu (Penaeus monodon)
7,8
8,6
200
33,3
29
Ikan lidah (Cynoglosus lingua)
15,5
45,0
160
26,7
30
Bandeng (Chanos chanos)
18,0
100,0
100
16,7
31
Udang jerbung (Penaeus marguensis )
13,0
30,0
90
15,0
32
Kakap (Lutjanus argentimaculatus)
7,5
25,0
50
8,3
33
Kerong-kerong (Terapon therap)
11
20
20
3,3
34
Sebelah (Pseuttodes erumai)
16
5
5
0,8
Total


4.139.423
689.904

III.  PENUTUP

Pengoperasian bagan dimulai dengan menurunkan atau menenggelamkan waring ke dalam perairan hingga kedalaman tertentu. Selanjutnya lampu petromaks dinyalakan untuk memikat perhatian ikan agar berkumpul di sekitar bagan. Apabila kelompok ikan telah terkumpul di pusat cahaya, sebagian lampu diangkat atau dimatikan agar kelompok ikan yang terkumpul tidak menyebar kembali. Setelah kelompok ikan terkumpul secara sempurna maka waring diangkat secara perlahan-lahan. Pada saat waring mendekati permukaan, kecepatan penangkapan lebih ditingkatkan lagi, selanjutnya ikan ditangkap dengan menggunakan serok.
Faktor-faktor yang mempengaruhi yang dapat mempengaruhi jumlah hasil tangkapan pada alat tangkap bagan tancap antara lain :
1.    Intensitas cahaya;
2.    Warna lampu; dan
3.    Posisi dan jenis lampu

DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa, A.U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri, Bogor. 97 hal.

Baskoro, M.S. 1999. Capture Proses Of The Floated Bamboo-Platform Lift Net With Light Attraction (Bagan). Graduate School of fisheries, Tokyo University of Fisheries. Doctoral Course of Marine Sciences and Teknology. 129 pp.

Baskoro, M.S dan Suherman, A. 2007. Teknologi Penangkapan Ikan Dengan Cahaya. UNDIP. Semarang. 176 hal.

Brandt, A Von. 1984. Fish Cathing Methodes Of The Word. Fao-Fishing News Books, Ltd. Famham-Surrey-England. 418 pp.

Dahuri, R. 2000. Pendayagunaan Sumber daya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat. LISPI dan DKP. Jakarta. 145 hal.

Hamzah dan sumadhiharga. 1993. Pengaruh Cahaya Lampu Terhadap Hasil Tangkapn Cumi-Cumi (Loligo Sp) Dengan Alat Tangkap “Jigs” Di Teluk Galela, Maluku Utara.Balitbang Sumber daya Laut, Puslitbang Oseanologi-LIPI Ambon 55-62.

Lee, J.W. 2010. Pengaruh Periode Hari Bulan Terhadap Hasil Tangkapan Dan Tingkat Pendapatan Nelayan Bagan Tancap Di Kabupaten Serang. Tesis Program Pasca Sarjana IPB, Bogor.

Made, S. 2006. Efisiensi Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Tangkapan Bagan Rambo Di Kabupaten Barru. UNHAS. Makasar.

Picasouw, John. 2005. Lampu Petromak Sebagai Alat Bantu Penangkapan Ikan. Warta Oseanografi. Vol. XIX No 3, Juli-September.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar